suasana Kampung komodo

Bakudapa “Ata Modo” Keturunan Ambon di Kampung Komodo

Saya tiba di Kampung Komodo, sekitar pukul 3 sore, setelah melewati perjalanan sekitar empat jam menggunakan Ojek Motor dari Labuan Bajo. Ojek Motor adalah transportasi warga di pulau-pulau yg ada di Manggarai. Dengan harga sekitar 30 ribu rupiah untuk sekali perjalanan, sangat murah dibandingkan menggunakan kapal wisata.

Menyebutkan Komodo, orang akan ingat dengan binatang purba yg mendadak jadi “seleb” sejak P. A. Ouwens, kepala kebun raya Bogor mempublikasi cerita tentang binatang langka tersebut pada tahun 1912.

Selain sebagai nama kadal besar, Komodo juga merujuk pada nama pulau dan Kampung tempat tinggal Ata Modo (Orang Modo). Ata Modo menyebut kadal besar itu sebagai Ora, sebutan lainnya adalah “Buaya Darat”. Pada atlas tua sekitaran tahu 1500an, Pulau Komodo ditulis dengan nama “Ou Comoda Isle'”.

Tak jauh dari Kampung Komodo, baru ada Loh Liang, tempat dimana para wisatawan seantero dunia datang untuk melihat binatang purba tersebut, Loh Liang dan kawasan sekitarnya termasuk dalam Kawasan Taman Nasional Komodo.

Setelah beristrahat sejenak di rumah panggung tempat bang Asdar tinggal. saya pun diajak ke salah satu nelayan yang tinggal tak begitu jauh dari bibir pantai. Sepanjang jalan, hampir semua rumah dikampung Komodo masih berupa rumah-rumah panggung. Sebagian lainnya, sudah mulai mengikuti rumah tapak jaman sekarang. Kolong rumah, sering digunakan untuk tempat berkumpul bercengkrama, ataupun aktifitas lainnya. Pada berapa rumah, kolong rumah dialih fungsikan menjadi kios, atau gudang.

Kami berdua menuju salah satu rumah milik Jaharudin, lelaki 30an tahun ini biasa disapa Om Dion oleh warga Komodo “Sejak Dulu, saya cuma taunya sekolah, nelayan, sekolah, cari ikan. Begitu saja tiap”. Ucap Om Dion pelan. Saat saya selesai mengatur HP yang digunakan untuk wawancara.

Sewaktu pariwisata mulai ramai di 2013-an, Jaharudin mengemudikan kapal untuk melayani turis. Dan saat pandemi tiba, pariwisata lesu, perahu-perahu wisata ini kemudian disulap kembali menjadi bagang untuk mencari ikan, sama seperti dulu. “Sebenarnya kami tidak pindah profesi, kami cuma kembali ke asal kami, seorang nelayan. Pariwisata itu semacam selingan” Tulis Akbar. Pemuda Komodo di status sosial medianya.

Jainudin, Nelayan Komodo

Sambil menikmati secangkir kopi yang dihidangkan oleh istri om Dion di ruang tamu. Kami pun melanjutkan obrolan setengah serius ini. “Abang ini dari mana? Logat omongnya kayaknya bukan dari Labuan?” Tanya Om Dion kepada saya. Saat saya menyebut dr Ambon, Raut muka om Dion sedikit berubah.  “kami ini keturunan ambon, Ada keluarga besar keturunan ambon disini”. Sambil menyebutkan berapa nama keturunan Ambon yang ada di Kampung Komodo. Saya mendadak terpana, Otak saya berhenti memproses berbagai informasi-informasi yang dikatakan Om Dion didepan saya ini.

Secara umum, saat mengikuti aksilarasi penerbitan, brapa bulan lalu. Saya sempat membaca tentang keturunan-keturunan apa saja yang menjadi Ata Modo (orang Komodo) saat ini. Salah satu keturunan yang mewarnai ragam penduduk Komodo adalah Ambon. “Nenek kami, dulu ke Ruteng, entah tahun brapa waktu belanda, dari ruteng baru kesini” Lanjut beliau, sambil menyebut sebuah nama.

Namun, Menyebut Ruteng, otomatis ingatan saya terlempar ke A.J. Patty, salah satu pejuang Ambon yang dibuang ke Ruteng pada tahun 1930.

Dalam catatan kaki di Majalah Prisma, Daniel Dhakidae menuliskan “AJ Patty mengeluhkan sangat jarangnya bantuan dari kawan seperjuangan, hanya sekali datang, sehingga dia harus menjual celana dan bajunya untuk membiayai kelahiran anak perempuannya yang kemudian diberi nama ‘Rutengina’ dan mengeluhkan toko-toko tidak bersedia memberikan kredit kepadanya”.

Dhakidae sebenarnya ingin menggambarkan, Bung Karno bukanlah orang pertama diasingkan ke Flores. Bung karno diasingkan di Ende, Flores pada tahun 1934 sampai 1938, empat tahun setelah AJ. Patty dibuang ke Ruteng oleh Belanda.

Namun, pengasingan Bung Karno di Ende tidak semiris AJ. Patty, karena Bung Karno masih mendapat imbalan 150 gulden dari pemerintah kolonial Belanda. (Engelina Pattiasina-2017)

Selain itu, Dalam mitologi sejarah penduduk Komodo, J.A.J. Verheijen mencatat penuturan  kedatangan penduduk komodo. “Kemudian datanglah nenek moyang klen Ambon. Melalui Lolo Kuni mereka tiba di Liang; di situ perahu mereka kandas. Mereka membawa yaitu rotan, dan bersama mereka datang pula belawo yaitu tikus. Menurut kata orang, sampai sekarang pun masih terdapat banyak sekali tikus, khususnya di sekitar Liang. Kepada orang Ambon diberikan daerah yang berbatasan dengan Liang” – (Pulau Komodo tanah, rakyat dan bahasanya” – 1987)

Pada kesempatan lain, saat ngobrol lewat pesan instan dengan Akbar, pemuda Komodo ini menyebutkan  bahwa orang ambon pertama yang menginjak kaki dipulau Komodo itu bernama Muhamad Said, kakek dari Jaharudin. Muhammad Said sendiri kemudian menikah dengan seorang perempuan komodo. Anak dari Abdul Rajab, yang rupanya adalah Narasumber J. A. J. Verheijen saat menulis Buku Komodo diatas.

Tiga pecahan informasi yang berputar-putar di kepala membuat saya akhirnya memutuskan untuk “skip” Semua cerita  tentang keturunan-keturunan orang ambon di Kampung Komodo. Menyusuri, kisah ini adalah menyusuri perjalanan panjang yang tak akan habis.

Setidaknya, saya sudah bertemu dengan Jaharudin, Ata Modo keturunan Ambon yang setia pada laut. Dan entah kapan mungkin saya atau ada orang lain yang  akan diberi kesempatan untuk menemukan  benang-benang merah perjalanan-perjalanan legendaris para manusia yang menjelajahi pulau demi pulau, tanpa melupakan asal usul mereka.

– Cerita perjalanan saya  tentang nelayan-nelayan di pulau Komodo dan Rinca saya tuntaskan di tulisan “Laho Le’mbajo, mengayuh asa baru untuk pelestarian warisan dunia” Yg diterbitkan Balebengong, dalam rangka “Anugerah Jurnalisme Warga 2021” – Bercovid-covid dahulu, bangkit bersama kemudian –

Comments (2)

  • Pengen dengen cerita ketemu orang ambon yang lain. Nice writing Bung

    • almascatie

      Nanti kalo balik ke sana lagi baru ngobrol panjang sama mereka. 😅

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *