Pada hari Selasa, tanggal 4 Oktober 1932 Koran Bintang Timoer memuat artikel berjudul “A.J .Patty ke Boven Digoel“, tulisan pribadi yang sepertinya ditulis oleh pemimpin redaksi Bintang Timoer – Parada Harahap – kawan baik A.J. Patty,  tulisan ini menjadi ucapan perpisahan kepada Patty yang akan menjalani babak baru pembuangan ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda. Patty, sebelumnya  telah dibuang ke Bengkulu akibat aktifitas Patty bersama “Sarekat Ambon” organisasi yang didirikan selama masa-masa tersebut.

Tulisan Lengkap dari artikel yang ada di Bintang Timoer tersebut  dapat disimak dibawah ini dengan sedikit penyesuaian ejaan:

"Alexander Jacob Patty, Leider van de Sarekat Ambon, op Ambon" - 1920-an

(Bintang Timoer, 4 Oktober 1932 – Halaman 2)
Sumber : opac.perpusnas.

A. J. Patty ke-Boven Digoel

 

 Sebagian Oplaag kita kemaren masih sempat memuat berita officeel dari Bogor, yaitu tentang tuan A. J. Patty yang dibuang pula ke Boven Digul. Sedikit riwayat dari Patty ada harganya ditulis disini:

Tuan A.J. Patty ada seorang bekas Stoviaan yang cakap, pandai berpidato, tangkas berpikir. Berapa tahun bekerjea di Gubenemen, diberbagai bagai kantor jadi kommies. Terpuji pekerjaannya. Di waktu Tuan Najoan ada ada di Betawi, Tuan Patty pun mulai bekerja keras dalam politik dan vakbeweging (serikat). Meskipun dahulunya sudah juga bekerja bersama-sama Dr. Douwes Dekker dalam sebuah surat kabar, tapi waktu itu hanya dalam jurnalistik.

 

 

Ketika di Betawi ia turut Sarekat Ambon, ia jadi Voorzitter (ketua rapat/sidang) dari Vakcentrale (Serikat Pekerja Buruh), Najoan jadi Peningmeester (Bendahara), Parada Harahap jadi Sekretaris. Atas permintaan bangsanya maka Patty pergi ke Ambon, membangunkan cabang-cabang Sarekat Ambon (SA) dan Ina Tuni (untuk kaum ibu).

Karena aksinya tidak disukai oleh Regenten (Bupati) disana, maka ia dibuang dengan… “Exorbitante Rechten Adat Ambon“, sehingga tidak dapat ia bergerak lagi membuat propaganda. Adat ini diikuti pula oleh suatu Besluit Gouvernement (Keputusan Pemerintah), ia diasingkan ke Bengkulu, diwaktu istrinya melahirkan anak di Budi Kemuliaan, itulah sebabnya si anak bernama Multaliana, artinya, anak dalam kesengsaraan.

Di Bengkulu ia hidup melarat, sehingga ia terpaksa minta pekerjaan kepada Goebernemen. Di Bengkulu juga kecil itu tidak dapat dipergunakan kepandaiannya bekerja. Banyak orang mencelanya ketika itu, sebab ia minta ampun… A.J. Patty menjawab, ia tidak minta ampun, ia punya Ruh tetap Ruh Nasionalis, tetapi ia perlu jual tenaganya untuk makan dan hidupnya. Maka jika Goebernemen mau beli tenaganya, ia sedia untuk menjualnya. Demikian Tuan Alexander Jacob Patty di benoemd jadi commies di Palembang, dengan Besluit pun dipindahkan bersama-sama. 

Ditempat yang baru ini, meskipun Qua Burger, ia sudah hidup senang kelihatannya menjadi chef di salah satu Afdeeling di Residentiekantoor itu. Kabarnya di comptabiliteit, ia gunakan juga tenaganya untuk gerakan rakyat. Ia bangunkan rupa-rupa kumpulan sosial di Ibu Negeri Palembang dan akhirnya ia masuki pula Partai Nasional Indonesia.

Meskipun berkali-kali ia diperingatkan, supanya jangan berbuat begitu. A.J. Patty tidak indahkan sebab rupanya ia sangat percaya pada Beleid dari Jhr. Mr. A. C. de Graeff. Akhir-akhirnya Jhr. Mr. A. C. de Graeff sendiri yang mesti juga memperhatikan Adviseur-nya, meneken Besluit buangan Patty. Patty dari Palembang dipindahkan ke Ruteng, dari pangkatnya pun dipecat. Di Palembang ia bercerai dengan istrinya, Nyonya Ambon yang melahirkan Multaliana. Ia kawin dengan seorang Nona Palembang (Islam) dan Patty sendiripun masuk Islam.

Kabarnya di Ruteng lahir pula seorang anak perempuan dari Nyonya Patty dan diberi nama Ruteng-ina. Tatkala Partai Indonesia didirikan sebagai ganti dari P.N.I maka Tuan Patty pun membangunkan cabang di Ruteng. Seterusnya ia bergerak sebagai biasa dengan tidak ada perubahan-perubahannya.

Akhirnya Pemerintah rupanya berpendapat, Patty ini telah matang benar untuk Boven Digul, maka datanglah kabar Officieel kemaren, menerangkan tempatnya Patty diunjuk sekarang di Tanah Merah tersebut.

Kita kenal baik akan Tuan A.J. Patty, seorang yang jujur dan kita rasa kerapkali ia jadi korban, adalah karena ia terlalu jujur pula. Ia mengira, orang lain itu semua seperti ia sendiri jujurnya, maka dengan tidak suatu rahasia atau apa jua pun, segala orang boleh ketahui pekerjaan dan perbuatannya.

Rupanya kerapkali maksud-maksudnya yang baik itu diterima salah mengerti orang lain, apalagi di tanah airnya sendiri, mentaliteit Ambon yang telah alam berakar menjadi tradisi hendak diputarnya sekaligus sehingga efeknya jatuh kepadanya sendiri.

Hikayat Patty di negerinya menjadi suatu pelajaran kepada Sarekat Ambon untuk menjalankan politiknya seterusnya perlahan-lahan tetapi terus. Itulah saja rupanya yang selamat di Ambon, kecuali jika dikehendaki bekerja dengan sengaja menyediakan korban. Sebagai kenalan personlijk, kita mengucapkan biarlah di tanah pembuangan itu Tuan A.J. Patty beradal dalam sehat wal’afiat jua kiranya bersama keluarganya.

alexander-jacob-patty-tirto
(Visited 14 times, 1 visits today)
Close